Friday, June 9, 2017

My Favorite Indonesian Culinary: Japanese Must Try It!


Indonesian Fruit Salad (Rujak Buah)


Hampir di setiap negara mengenal salad sebagai sajian lezat dan segar. Salad bisa beragam cara penyajiannya, biasanya berupa sayuran atau buah segar yang dipadukan dengan saus sebagai penyatu rasa. Kali ini saya ingin membicarakan salah satu sajian khas Indonesia yang setiap kali dengan melihat gambarnya saja langsung membuat perut ini bergejolak lapar hingga menelan ludah saking menggiurkannya. Bisa dibilang, sajian ini adalah salad khasnya negara kita dengan saus kacang pedas yang super enak, RUJAK BUAH atau bahasa kerennya Indonesian Fruit Salad with Spicy Peanut Palm Sugar Sauce.  

Berawal ketika secara tidak sengaja saya melihat program di TV, sebuah acara kuliner berjudul East Vs. West di NatGeo Channel yang dibawakan oleh seorang juru masak handal Malaysia Chef Wan, maka munculah ide tulisan ini. Jadi, intinya acara tersebut ingin membantu warga/masyarakat Western dalam mengakali gaya hidup mereka yang terbiasa mengkonsumsi makanan olahan, kalengan dan cepat saji. Ketimbang mengkonsumsi makanan-makanan seperti itu, Chef Wan menawarkan alternatif resep Asia yang kaya akan rempah pun makanan-makanan fresh tanpa pengawet kepada masyarakat Western. Rujak buah khas Indonesia ala Chef Wan kala itu menjadi solusi di episode yang saya tonton.

Mengingat makanan khas Jepang juga terkenal dengan kesegarannya seperti sushi dan sashimi, rujak buah khas Indonesia bisa menjadi pilihan menarik untuk dipromosikan ke masyarakat Jepang. Mereka harus coba! Saya yakin mereka suka. Buah-buahan tropis yang segar dengan saus kacang pedas berpadu dengan asam jawa dan gula aren yang lezat. Kalau dipikir-pikir ada juga kesamaan yang mirip antara rujak buah dan sushi/sashimi. Semuanya sama-sama dicelup-celupin ke saus kan. Haha, maksanya keren ngga?






Kalau orang Jepang mau coba rujak buah ketika mereka ke Indonesia, nyarinya juga gampang. Tidak diperlukan rekomendasi tempat. Mamang rujak ada di mana-mana, jelas tapi mereka bukan Oksigen. Aduh kumat lagi, maaf. Oke, ada beberapa foto mamang rujak buah yang saya dapat dari Mbah Google beserta gerobaknya. Mungkin suatu saat bisa menguntungkan buat mereka, karena fotonya diupload di sini gratis. Tanpa jasa mamang rujak pun kita bisa mudah membuatnya, cukup potong nanas, mangga muda, bengkoang, papaya, dan timun lalu tuangkan saus kacang dengan resep yang bisa ditemukan di internet/buku resep masakan di toko buku terdekat, atau saus yang beli di mamang rujak (teteep). Larislah selalu wahai Mamang Rujak kebanggaan negeri.

Saya pun yakin rujak buah akan tetap menjadi favorit di hati siapa pun yang menggemarinya, termasuk ibu-ibu hamil yang lagi ngidam. Sehat, bergizi, dan lezat.

by: Seradona

Thursday, June 8, 2017

BEKRAF Luncurkan Buku Indonesia Trend Forecasting 2017-2018 [GRATIS]

Instalasi desain bertema Archery (Bentukan dari Bumi), salah satu tema yang diangkat di tahun ini

Saya sempat diundang Indonesia Fashion Chamber (IFC) dalam acara peluncuran buku Indonesia Trend Forecasting oleh Bekraf. Bertempat di Lotte Avenue Kuningan, Jakarta Selatan. Acaranya sangat Indonesiawi dan unik. Disambut dengan suguhan coffee break dan makan siang prasmanan yang kental akan ciri khas masakan Indonesia, mulai dari menu utama hingga hidangan penutupnya. Di tambah lagi, kita bisa ikut menyaksikan sejumlah instalasi menarik yang merupakan representasi tema desain di sekeliling ruangan, Suatu kebanggan buat saya tentunya dapat turut menjadi saksi lahirnya buku yang dinanti-nanti para pelaku industri ekeonomi kreatif tanah air. Silakan simak artikel yang saya tulis khusus di website wrdnfashionindo.com mengenai acara ini. Penting buat para pemerhati dan pelaku dalam industri ekonomi kreatif Indonesia untuk tahu tentang tema dengan nuansa apa yang akan menghiasi dunia desain saat ini.

.......................


“Dengan memahami gaya hidup masyarakat, para produsen dapat menghasilkan produk-produk yang memang diinginkan oleh para konsumennya. Maka, diperlukan suatu riset trend forecasting yang berkaitan langsung dengan perubahan pola pikir masyarakat (konsumen) global,” menurut Dina Midiani, selaku desainer dan salah satu perwakilan dari tim Indonesia Trend Forecasting 2017.


Bicara soal tren bukan semata-mata meneliti mengenai perubahan elemen desain seperti warna, bentuk, tekstur, dan volume. Namun, lebih kepada kejelian memahami pesatnya perubahan dinamika gaya hidup dan pola pikir masyarakat dalam berbagai aspek umum kehidupan seperti sosial, politik, ekonomi, isu lingkungan, hingga perkembangan teknologi. Perubahan-perubahan tersebut merupakan suatu tantangan tersendiri bagi para pelaku industri ekonomi kreatif dalam mengasah kreativitasnya.

Di era digitalisasi seperti saat ini, arus penyebaran informasi begitu luas dan sulit terkendali. Setiap orang dapat dengan mudah mengutarakan pendapatnya, juga menyebarluaskan pesan di dunia maya. Tidak jarang banyak ditemukan informasi yang dimanipulasi hingga kebenarannya penuh teka-teki. Ini mengakibatkan kita sulit membedakan mana yang benar dan salah. Batas hitam dan putih pun menjadi samar. Situasi penuh kesimpangsiuran atau ketidakpastian inilah yang melatarbelakangi prediksi tren desain Indonesia di tahun 2017/2018, yang kemudian dirancang dalam satu kesatuan buku bertemakan “Grey Zone” dan diterjemahkan dalam berbagai tawaran desain meliputi empat subsektor ekonomi kreatif, yaitu interior, produk, fesyen, dan kriya.
sumber: www.bekraf.go.id

Melalui peluncuran buku Indonesia Trend Forecasting 2017/2018 (dapat diunduh gratis di http://trendforecasting.bekraf.go.id/), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan pakar, peneliti, berbagai asosiasi, dan institusi pendidikan dalam bidang terkait berupaya membantu para pelaku industri ekonomi kreatif dalam membaca dan menginterpretasikan perubahan lajur tren yang sejalan dengan selera masyarakat global, namun tetap mempertahankan warisan budaya serta kearifan lokal. Hal ini juga merupakan bentuk partisipasi aktif dan langkah Bekraf guna mewujudkan Indonesia sebagai pusat inspirasi tren dunia. 

Perumusan buku ini sendiri disusun dengan teliti berdasarkan serangkaian riset panjang dan tinjauan sejumlah literatur. Ada empat subtema tren yang diangkat, yaitu Archean (bentukan dari bumi), Vigilant (estetika terhitung), Cryptic (rekayasa hayati), dan Digitarian (generasi mayantara). Keempat subtema itulah yang akan kerap mewarnai dunia perancangan/desain di Indonesia selama setahun mendatang.

Kehadiran buku Indonesia Trend Forecasting 2017-2018 diharapkan dapat menjadi solusi dari sejumlah tantangan yang tengah dihadapi oleh empat subsektor ekonomi kreatif (interior, produk, fesyen, kriya) di tanah air. Sekaligus menjadi referensi yang tepat serta strategis agar para produsen memiliki peta acuan jelas, sehingga produk yang diciptakan dapat berdaya saing dan mampu memenangkan persaingan pasar global.

by: Seradona

Monday, November 28, 2016

[Cerpen] Ratu Sejagad



Hmph ... setahun sudah berlalu. Tapi ketegangan di atas panggung saat itu masih terasa hingga detik ini. Rasanya berat sekali menerima kenyataan bahwa aku harus memberikan semua memori dan sensasi ini kepada wanita lain yang akan menggantikanku. Hatiku bimbang apakah dengan berpindahnya mahkota di atas kepalaku ini berpindah juga semua kenangan indah nan berharga yang ada di dalamnya. Mahkota ini telah menjadi simbol pengakuan terhadap kecantikanku.

Momen Pemilihan Puteri setahun lalu terbayang-bayang dalam benakku, jantungku pun kembali berdebar-debar. Sesaat bayanganku berpetualang lebih jauh ke masa lalu ketika teman-teman melihat wanita-wanita cantik berjalan dengan anggunnya di panggung dan mereka semua mendambakan untuk bisa menjadi seperti wanita-wanita itu, dan aku benar-benar mewujudkan impian gadis polos itu! Segera ketika namaku disebut sebagai penyandang mahkota itu, semua rasa bercampur aduk dalam pikiran. Bersyukur, tangis haru, bahagia, eforia dan semua perasaan lainnya berebut untuk muncul dalam ekspresi wajahku yang jadi tidak karuan, tapi biarlah, aku sudah diakui sebagai yang tercantik malam itu. Untungnya aku masih bisa mengendalikan diri, meski bibir membisu dan tubuh sedikit membatu, senyuman dan lambaian tangan tanda terima kasih kuberikan pada semua yang hadir dalam ruangan itu.

Dan waktupun begitu cepat berlalu. Kini di depanku ada seorang wanita berbahagia lain yang menungguku untuk menyerahkan mahkota ini kepadanya. Dalam hati aku berkata, “Selamat kawan, nikmatilah setahun yang berbeda dalam hidupmu selama menyandang mahkota dan status ini, kutitipkan memoriku juga bersamanya”. Hinga akhirnya, aku melangkahkan kaki dalam ritual Last Walk yang selalu dilakukan para Puteri ketika tergantikan oleh penerusnya. Namun tidak seperti yang kuduga, aku tidak sedih, ada rasa lega ketika semua beban penjagaan citra diri tiba-tiba terlepas dari pundakku. Langkah di Last Walk ini adalah langkah simbolis di mana aku akan terus berjalan menyongsong masa depan yang lebih bermakna dari mimipi indah setahun ini. Memori yang kutitipkan dalam mahkota itu telah berpindah, kini cita-cita dan bayangan kiprah di masa depan pun berganti mengisi kepalaku. Sama seperti ketika terpilih, aku kembali memberikan senyuman dan lambaian tangan bentuk terima kasihku pada semuanya.

Entah berapa tahun sudah kulalui lagi, angin dari depan jendela menghembus berbisik syahdu kepada jiwaku seakan alam mengatakan semua akan baik-baik saja. Bau dedaunan, rumput, dan bunga-bunga menari-nari dalam penciumanku, diringi musik indah kicauan burung pipit dan gemerisik ranting dengan alunan air sungai, kecantikan harmoni alam ini tidak membutuhkan mahkota seperti aku dulu. Maka kuyakinkan diri untuk membuka mata dari lamunan nostalgia pengakuan kecantikanku dan melihat kecantikan alam di depan mataku yang rabun. Andai saja aku bisa berjalan di atasnya seperti aku berjalan di panggung saat itu, tanpa perlu diganggu kursi roda yang mengingatkan betapa rapuhnya aku kini.

“Grandma, I wanna be a princess too! Tell me more, tell me more, please, please, pleeeeeeaseee...”

by: Seradona A.

Sunday, November 27, 2016

[TED Talks] Cameron Rusell: Looks aren't everything. Believe me, I'm a model

Di Minggu malam ini saya mau berbagi ulasan TED Talks favorit saya sejak jaman kuliah dulu tentang seorang model yang blak-blakan berbicara tentang persepsi orang mengenai kecantikannya dan apa yang ia rasakan tentang itu.



Cameron memulai presentasinya dengan mengenakan baju ala model, kemudian dia mengatakan pada penonton di sana kalau dia merasakan ada rasa janggal terhadap dirinya yang mengenakan short dress dan high heels. Dia pun langsung mengenakan rok tambahan, sweater, dan mengganti sepatunya dengan flat shoes sambil berkata bahwa dia sengaja melakukan hal tersebut untuk menunjukkan pada kita betapa cepatnya orang lain akan berubah persepsi terhadap dirinya dalam 10 detik hanya karena pergantian penampilan saja. Dan benar saja, aura yang dia tunjukkan menjadi berbeda seketika seperti yang bisa dilihat pada foto artikel ini. Kemudian dia melanjutkan dengan menyampaikan ide utama dari presentasinya betapa sebuah image itu sangat powerful, namun di saat yang bersamaan image itu juga sangat dangkal.

Cameron kemudian mengaku bahwa berada di depan penonton saat itu membutuhkan keberanian karena ia akan berbicara secara jujur tanpa basa-basi mengenai penampilan cantiknya. Ia mengatakan bahwa menjadi model itu seperti menang undian genetik berhadiah, tidak ada orang yang bisa memilih dilahirkan dengan standar kecantikan masyarakat. Dia juga mengatakan bahwa bercita-cita menjadi model itu sama dengan bercita-cita mendapatkan undian berhadiah, sebuah rencana yang sangat tidak pasti jalan karirnya, mengapa tidak bercita-cita untuk menjadi bos-nya model saja? Cameron lalu menunjukkan perbandingan foto-fotonya di sampul majalah dan foto-fotonya dalam kehidupan sehari-hari. Tampak betul perbedaan antara dirinya di majalah dan di kehidupan nyata, ia mengatakan bahwa yang di majalah bukanlah image dirinya, tapi image yang dibentuk oleh desainer, fotografer, makeup artist, penata gaya, dan semua orang yang punya kepentingan dalam bisnis. 

Banyak orang beranggapan bahwa model itu enak selalu dapat banyak barang gratis (endorse, goodies) dari merek-merek ternama. Cameron mengiyakan anggapan tersebut, ia juga mengatakan ada barang gratis lainnya yaitu perlakuan baik dari orang lain, perlakuan baik itu termasuk polisi yang membebaskan dia dari surat tilang, pemilik toko yang memberi baju gratis karena dompetnya tertinggal di mobil. Namun di saat yang sama di Amerika banyak orang yang non-kulit putih dicegat oleh polisi dan dicurigai oleh masyarakat tanpa sebab. Sebuah perlakuan yang tidak adil hanya karena penampakan seseorang.

Banyak orang juga beranggapan bahwa model itu hidupnya selalu bahagia dengan pekerjaannya yang menyenangkan ditambah perjalanan ke luar negeri gratis ketika ada show di sana. Namun Cameron mengatakan bahwa itu hanya separuh ceritanya saja, andaikata penonton tahu, model itu adalah makhluk yang paling insecure dengan penampilannya di dunia ini. Di dalam pikiran mereka, mereka selalu ingin tampak cantik dan selalu ingin menambah kecantikannya dengan fake tanning, mengecilkan paha yang sudah sekecil pensil ujian 2B, dll. 

Akhirnya ia menutup presentasinya dengan mengatakan bahwa sulit baginya untuk berbicara di depan penonton saat ini karena seakan-akan ia dengan sombongnya berkata "Lihat betapa cantiknya saya tapi saya tidak bahagia lho!". Tapi itulah inti dari presentasi dia, Cameron ingin menyampaikan betapa kekuatan image itu bermain-main dengan persepsi kita mengenai apa itu bahagia dan apa itu tidak bahagia, apa itu sukses dan apa itu gagal. Pikiran dan perilaku kita terbentuk hanya karena apa yang tampak di mata kita tanpa repot-repot mau mengetahui pribadi-pribadi yang ada di sekitar kita. 

Buat kamu yang mau nonton videonya langsung bisa cek di sini: 
Cameron Rusell: Looks aren't everything. Believe me, I'm a model


Semoga bermanfaat!

by: Seradona A.

Friday, November 25, 2016

Delia von Rueti dan Taman Hutan Hujan Tropis Pertama di Indonesia

Andai saja sebagian besar orang berpunya di Indonesia berani mengambil resiko tanpa pamrih mendonasikan sedikit lahan mereka untuk dijadikan konsumsi publik, alias tidak mendapatkan keuntungan sepersen pun, bukan untuk “ditanami” kompleks elit, gedung tinggi, pusat perbelanjaan, atau untuk tujuan komersil lainnya, tetapi “ditanami” pohon-pohon, mungkin kota-kota besar tidak akan mengalami bencana tahunan seperti banjir. 

Adalah Delia von Rueti yang telah mendedikasikan tanah pribadi seluas 2.500 hektar untuk lahan konservasi dan bisa dinikmati publik luas. Seorang desainer perhiasan yang juga memiliki kepedulian luar biasa terhadap lingkungan. Lahan tersebut berada di Muara Teweh, hanya sekitar 7 km dari Bandar Udara Baringin, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah. Acara bertajuk Love and O2 Media Gathering, bertempat di Grand Hyatt Hotel Jakarta dua hari lalu (23/11/2016), merupakan titik kesadaran bagi kita, bahwa di dunia ini masih ada sosok manusia yang mencintai buminya. Dalam pertanyaan hipotetik yang biasa beredar "Apa yang kamu lakukan jika kamu punya uang jutaan dolar?", Pada kasus ini Delia memberikan contoh yang tidak biasa.

Siapakah Delia? Selain berprofesi sebagai artis/desainer perhiasan yang karyanya telah dikenakan oleh banyak nama-nama besar, seperti keluarga Al-Fayed, Michelle Yeoh, Sharon Stone, Delia juga dikenal sebagai philanthropist, pegiat agrikultural dan memiliki perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Di sela kesibukan yang padat menjalani berbagai kegiatan sosial dan bisnis, Delia adalah seorang ibu dari tiga anak perempuan, Sarah, Kayla, dan Karina dari hasil pernikahannya dengan bankir asal Swiss, Patrick von Rueti. Mereka kini tinggal di antara tiga tempat, yaitu Bali, London, dan Zurich.

“Action speaks louder than words” adalah salah satu filosofi hidup yang dipegang teguh oleh wanita yang tumbuh besar di kawasan perkebunan Pematang Siatar (Sumut) ini. Meskipun kini ia mengaku banyak menghabiskan waktu di Negara Barat, namun tidak sekalipun ia melupakan kisah Delia kecil yang semasa hidupnya tumbuh di kalangan keluarga sederhana. Memori masa kecil, ia berlari-lari di antara rerimbunan pohon sewaktu menemani orang tua berkerja, menjadikan dirinya memiliki hasrat besar untuk mewujudkan mimpi membangun taman hutan hujan tropis pertama di Indonesia. "This is not a charity. It is my charity to my beloved nation, Indonesia", ungkap Delia dalam kata sambutannya.

Dengan gerakan 1 T-shirt for 1 Tree, yang ia desain sendiri bajunya dan akan dijual seharga Rp 100.000, nantinya seluruh hasil penjualan akan digunakan untuk membantu penanaman pohon serta pemeliharaan taman. Taman hutan hujan tropis tersebut adalah milik kita bersama dan dapat dinikmati secara gratis oleh semua kalangan. Mereka yang ingin sekedar berekreasi bersama keluarga, orang tua yang ingin mengajarkan anaknya tentang alam, atau individu yang ingin melakukan penelitian, siapapun boleh berkunjung ke sana. Delia mengaku tidak akan menyewa security yang ketat. Ia percaya bahwa publik memiliki kesadaran penuh untuk menjaga taman dari kerusakan.

Komunitas Love and O2 dan gerakan 1 T-shirt for 1 Tree ini didukung oleh banyak pihak, dari public figure, politisi, hingga para petinggi pemerintahan, dari warga, kepala adat, kepala desa hingga gubernur setempat. Salah satu di antara mereka adalah Yeni Wahid, putri dari mantan Presiden RI Abdul Rahman Wahid, juga sejumlah nama-nama public figure seperti Teuku Zacky, Titi DJ, Aming-Evelyn, Titi Rajo Bintang dan masih banyak lagi. Gerakan yang disponsori oleh Wardah ini, juga diharapkan dapat turut memberi kontribusi pada setiap lapisan masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Untuk info lebih lanjut, dapat dilihat di akun resmi instagram atau facebook, dan website www.loveando2.love.


Terkait tema ini, saya jadi teringat dan ingin menyarankan teman-teman untuk menonton Before the Flood, film dokumenter mengenai dampak global warming yang dipandu oleh aktor Leonardo Dicaprio. The movie is exceptionally touching, karena menyuguhkan cuplikan nyata bahwa global warming memang sedang melanda kehidupan manusia. Sadar atau tidak, inilah kenyataan kondisi bumi yang kita hidupi. Sebagai organisme yang selamanya bergantung kepada persediaan sumber daya bumi, sudah sewajarnya kita menyadari hal ini dan mulai mengubah kebiasaan dari yang paling kecil agar hidup menjadi lebih ramah lingkungan, misalnya mulai menanam pohon di pekarangan rumah. Bukan untuk sekarang saja, tetapi dampak ini akan dirasakan oleh generasi selanjutnya. 

Beberapa dokumentasi acara 
Love and O2 Media Gathering

Delia von Rueti dalam menyampaikan kata sambutan 


Beberapa tamu dan awak media yang hadir


Salah satu contoh desain kaos "1 T-shirt untuk 1 pohon"


Delia bersama Titi DJ dan Teuku Zacky memamerkan desain kaos


Teuku Zacky


Titi DJ


Evelyn-Aming-Titi DJ


Foto bersama: Delia dan suami serta para sahabat yang mendukungnya


by: Seradona A.

Monday, November 21, 2016

Sarinah - Mall Pertama Indonesia

Sebelum ada Mall Ambarukmo di Jogja, Tunjangan Plaza di Surabaya, Paris van Java di Bandung, Grand Indonesia, Plaza Senayan, Siti Senayan, Siti Gandariah, dan Siti Kuningan di Jakarta, yang ngakunya anak mall kayak saya juga mesti tahu kalau ada mall tertua dibangun pertama kali di Indonesia dan masih beroperasi hingga sekarang ini. Pusat perbelanjaan yang pernah terdengar lagi namanya wara-wiri di statsiun TV karena peristiwa bom pertengahan bulan Januari 2016 lalu, namanya Sarinah.

sumber: google

Nama Sarinah sendiri berasal dari nama pengasuh masa kecil Soekarno, presiden pertama kita. Soekarno berinisiatif mendirikan Sarinah berdasarkan pengalaman berlawatnya ke sejumlah negara maju yang sudah lebih dulu menggunakan sistem belanja self-service seperti supermarkat. Jadi pembeli diberi ruang leluasa, kebebasan memilih, mengambil sendiri barang-barang yang dibutuhkan, dan membayar di kasir. Sedang pada saat itu, masyarakat kita masih anteng dengan fasilitas warung-warung sekitar tempat mereka bermukim.

Dibangun pada masa Soekarno masih menjadi presiden tahun 1963 dan mulai beroperasi tahun 1967, Sarinah sebagai pusat perbelanjaan pertama ternyata juga merupakan gedung pencakar langit pertama di Jakarta dengan tinggi 74 meter dan memiliki 15 lantai (Wikipedia). Kalau sekarang, gedung pencakar langit banyak sekali kita lihat bertebaran dimana-mana, apalagi di kawasan Central Business District (CBD), tempat perkantoran hits di Jakarta, sekaligus tempat nongkrong-nongkrong kerennya anak gaul, atau sekedar tempat orang-orang yang memanjakan dirinya, baik sendiri, bersama teman, maupun keluarga tercinta sehabis berkutat dengan kerasnya kota metropolitan.

Nama boleh Sarinah alias jauh berbeda dengan penamaan pusat perbelanjaan masa kini yang mengarah ke penamaan modern menggunakan unsur bahasa asing seperti yang saya sebutkan di atas, tapi Sarinah ini bisa dibilang sebagai saksi bisu perubahan perlahan peradaban manusia di Jakarta! Sebagai yang pertama, pada masa kejayaannya Sarinah sempat menjadi satu-satunya andalan warga Jakarta dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang berkualitas dengan mudah. Berlokasi di sekitaran bundaran HI, tepatnya terletak di Menteng, Jakarta.

Hayo kapan-kapan coba kunjungi ‘nenek moyang’ mall di Indonesia, Sarinah. ^^

Tuesday, November 15, 2016

21 Years Old Me: A Teenage-Like Dream

I grew in the family who always support me. I can say that my family is the harmonic family I ever have. It is my best gift I received. Nothing can show me the truly love likes what they have shown to me since I was being here. I am the second child of three siblings in my family. I have the older sister and the younger brother. My sister has passed her education since 2009. She was also an English department student of Universitas Bengkulu. She was one of the best graduated students with the highest academic index score. Because of that, she inspires me a lots to be better than her.  Now, she is working as the employer of Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN) in Argamakmur, Bengkulu. My brother is an elementary school student. He is eleven years old. He is a cute boy. He loves playing playstation so much. He always gets being the top ten ranked position in his class. Now, he is preparing himself to face the final examination. He really wants to enter the most favorite Junior High School in Bengkulu, the same school which is also I came into, SMP NEGERI 1 KOTA BENGKULU. It makes us be proud of him. He is very smart boy. Hopefully, he can be a good person in his future as what my parents expect.

Education is a virtue in my family. My father is a lecturer in Universitas Bengkulu. He has graduated his Doctoral degree since August 2009. My mother is working in BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) of Bengkulu Province. My parents teach me how we can share each other. They always expect their children to be useful in a community. I really understand what they expect. So, I don’t want to waste my time just for doing something which is unimportant in my life. I always try to challenge any upcoming opportunities in my life, because it will make me become a better person. Despite the fact that my father is a lecturer at the same university where I’m studying now, I never thought about taking advantage of this particular situation. Instead, I push myself to prove that I am independently good in academic skill by taking a scholarship program (PPA), a scholarship program that is given to Unib’s best student. It is an honor to help my parents from paying my fees, it also makes me feel that I am totally responsible to my future and my parents can count on me. Fortunately, now, I can be one of the students who become a scholarship achiever of PPA scholarship. What I am doing right now is also for showing to others that all students wherever they come, they can reach what they have to reach if it must be reached and if they are capable to reach it. I don’t want there is someone says that I can get the scholarship because of my father. I want something pure honest for my education and my life.

Now, I am 21 years old. It shows that I should be mature enough to manage whole of my life destinations. I have to start to prepare my future life. I don’t want to make my family be disappointed of me. I want to give my best to them and I want to do what they expect. I just think that what I have done until now is not enough. I have to do further. That is what I am for, making them happy, making them be proud. I’ll never want to see them effort a lots for me. For instance, if I want to buy something that I need, I will try to collect money first by myself then I will buy it. If it is not too necessary, I will think first to buy it because I really appreciate my parent’s effort finding money for me. Moreover, I will be more proud if I can give them money from what I carry on. It is time for me to give a special something for my family more than just what I have done right now. I will prove that as possible as I can. 

By having a great family that always teaches me how to be tough in every time I life, how to be a wise person in a community, how to manage the time, how to keep relationship to others, and how to effort what I really want by myself, all kind of that things make me be brief to follow many competitions to prove to them that I can be what like they really want. I want to show that what they have taught is very precious for me. I am seventh semester now. I should be more focus than before. But it doesn’t mean that I can waste the opportunity to follow the useful program that offers me something special to encourage my study. I really want to reach the achievement relates to my study and my passion. I believe this is the right time to show up. Hopefully, the best will I get. Thanks for my parents, my family, for all supports until now. All what you give to me are very useful and it can create me as an autonomous person.

Tulisan ini adalah tulisan saya tahun 2012, sewaktu diminta untuk menceritakan tentang diri dalam program pertukaran pemuda di tempat kelahiran saya, Bengkulu. Meskipun pada waktu itu belum beruntung, tetapi kesan selama proses seleksi masih akan dan terus terngiang. Tulisan ini adalah salah satu kenangan indah yang tertinggal. :) 

Wednesday, September 21, 2016

Anime – Konten Media Khas Jepang dan Pembentukan Karakter

Google Images
Pulang sekolah, hidupkan TV, nonton kartun Samurai-X. Hari Minggu seharian di depan TV nunggu Inuyasha. Ke pasar cari baju ala pelaut biar mirip Sailormoon. Aaah.. memori masa kecil.. Ternyata selain tumbuh dengan ajaran agama, eksotisme cerita rakyat dari berbagai daerah, kita juga tumbuh dengan nilai-nilai dan budaya Jepang yang tercermin dari anime. Tidak semua orang merasakan ini memang, tapi saya yakin sebagian besar pernah gandrung sama kartun Jepang, setidaknya Doraemon.

Anime secara literal berarti animasi, kata ini diambil dari singkatan animeshon, cara lafal Jepang dalam menyebutkan kata Inggris “animation”. Sekarang kata anime ini disematkan secara eksklusif untuk kartun yang berasal dari Jepang saja, jadi Pooh, Mickey Mouse, Cinderella, dan kawan-kawannya tidak termasuk keluarga anime. Dulu di Indonesia setahu saya belum ada sebutan “penggemar anime”, yang ada ya anak-anak yang suka nonton kartun. Sekarang, “penggemar anime” punya kekhususan sendiri, mereka tidak mau disamakan dengan pecinta Pixar atau Disney.

Para pecinta anime pun mendapatkan label bermacam-macam dari masyarakat. Pria biasanya akan dikatakan kekanak-kanakan, introvert, atau jomblo sejati kalau mereka menyukai anime. Sedangkan wanita penggemar anime akan dibilang imut (lumayan ada positifnya), kekanak-kanakan, delusional romansa (aduh nyesek). Di luar semua label itu, konten media asal Jepang yang jadi gaya hidup tersendiri ini selalu punya tempat di hati masyarakat Indonesia. Banyak pameran berskala nasional digelar di mana pemuda-pemudi berpakaian seperti karakter favoritnya, ribuan mahasiswa menjalani suka-duka kesehariannya bersama anime di kos-kosan, dan makanan Jepang makin laris karena penonton tergiur oleh makanan di anime.

Sadar atau tidak, anime pun punya banyak andil dalam membentuk budaya hidup penggemarnya:
  • Salah satu contohnya, saya pribadi jadi suka merapikan kamar dan menghias kamar karena terinspirasi dari setting ruangan di komik serial cantik dan kamar Kagome (Inuyasha), contoh gambar kamar rapih di buku pelajaran Bahasa Indonesia tidak sedetail di komik dan anime sih.
  • Manfaat lain adalah internalisasi budaya kebersamaan yang sangat kental di budaya Asia, ini paling terlihat dari dinamika persahabatan, tema umum yang dibawa oleh hampir semua anime. Biasanya persahabatan ini digambarkan bisa mengalahkan bullyingand I think this is a great message for anime lovers.
  • Waktu SMA dulu saya juga pernah baca kalau anak-anak yang gemar nonton animasi memiliki kecerdasan spasial (ruang, matematis) yang lebih baik karena mereka lebih mudah dalam mengilustrasikan hal-hal yang abstrak di dalam benaknya. Nyatanya, siswa berprestasi di sekolah ternyata memang penggemar Bleach, Gundam, Pokemon, dsb.
  • Ketika dewasa ini dikenalkan pada beberapa anime oleh suami (buat yang penasaran:Attack on TitanMirai NikkiAnother, School-Live!), saya juga baru ngeh ada kompleksitas dan keindahan dalam penyusunan plot serta karakternya. Bahkan terkadang jauh lebih kompleks daripada film chick-lit yang sering saya tonton jaman kuliah dulu. Bahkan beberapa mengandung pesan sosial yang sangat simbolis, sampai-sampai saya harus pakai ilmu semiotik dan metafora untuk membongkar maksudnya :p
Anime secara tidak disadari adalah senjata terampuh Jepang untuk memperkenalkan budayanya, seperti halnya Korea dengan drama dan K-Pop nya. Di samping sushi, takoyaki, dan bento, budaya khas Jepang untuk selalu hormat pada atasan/sesepuh, kebiasaan rapih, dan mementingkan kebersamaan di atas kepentingan pribadi itu tersirat di dalam anime. Dan menariknya lagi, selain menjadi cerminan budaya, saya juga merasa anime ini terkadang jadi tempat pembuat cerita untuk kabur dari kekangan realitas atau kekakuan budayanya, misalnya penggambaran pria pemalu yang tiba-tiba menjadi magnet cinta teman wanita cantiknya, kemampuan memprediksi masa depan, monster dan supernatural yang datang di rutinitas sehari-hari yang membosankan, dan banyak lagi hal menarik lainnya!

Memang tidak semua orang bisa jatuh hati dengan hiburan satu ini. Banyak penikmat film barat merasa janggal dengan cara berbicara orang Jepang seperti tergambarkan di dalam anime. Beberapa gadis juga lebih mengidolakan sosok princess cantik nan tersohor (Elsa, Cinderella, Snow White) daripada gadis biasa yang kebetulan punya kesempatan untuk dekat dengan sosok pria maskulin yang sensitif (Kagome-Inuyasha dan Kaouru-Kenshin). Tapi ada juga yang bisa menikmati keduanya.

Bagaimanapun juga efek anime ini luar biasa. Saya jadi teringat joke di internet di mana Amerika mengalahkan Jepang di perang dunia, unggul dalam bisnis produk, tapi ketika di sodori anime langsung teriak, “Sugoooi Nippon-sama, daisukii desu!!”

by: Seradona A.

Monday, September 19, 2016

It's Only Just Begun

Assalamualaikum :)

Sebelumnya, ini adalah tulisan yang pernah saya posting di moeslema.com. Tulisan tentang pernikahan ini sebenarnya terdiri atas dua bagian; bagian pertama yaitu "sebelum pernikahan" dan bagian kedua "masa setelah pernikahan". Hanya saya untuk bagian pertama saya lupa di folder mana menyimpannya dan kebetulan moeslema.com pun sudah mengalami perubahan konsep di lamannya. Jadilah, ini yang tersisa dan saya merasa perlu untuk membaginya di laman blog pribadi saya. 


Di bagian kedua ini, saya berbagi cerita tentang masa setelah pernikahan. Kalau bisa dibilang, transisi dari lajang ke menikah itu sama seperti pindah rumah, pindah kerja, atau masuk jenjang pendidikan baru. Intinya, kita memasuki sebuah kehidupan baru untuk beradaptasi dan beraksi.

Perubahan Persepsi

Banyak yang bilang kalau nikah itu tidak seperti pacaran, pacaran cuma ada indah-indahnya saja dan ketika menikah baru kelihatan buruknya satu per satu. Pernyataan itu bisa saja benar, kalau hubungan pacaran tersebut didasari ego dan sekedar memenuhi kepentingan pribadi. Untungnya mitos itu tidak terjadi dalam hubungan saya, ketika awal saling tertarik kami selalu menginginkan yang terbaik bagi pasangan dan ini tetap berlanjut dalam pernikahan.

Misalnya, salah satu mitos dan momok dalam pernikahan adalah mulai mengenali keburukan suami. Tapi pernikahan tidak membuat saya menyesal mengetahui keburukan itu, malahan pernikahan menjadi jembatan untuk bisa saling memperbaiki diri satu sama lain. Dengan kepercayaan dan komunikasi yang sehat, lambat laun kami mulai terbuka tentang kekurangan-kekurangan kami dan bersama-sama merencanakan pengembangan diri.

Mitos lain adalah hidup setelah menikah akan menjadi lebih terkekang, karena harus memikirkan suami, anak, mertua, dsb. Suami pernah berkelakar tentang hal ini, “Aku udah gede, ngga usah dipikirin. Aku juga bisa mikir sendiri lho, coba nih lihat wajah berpikirku”(iya orangnya memang aneh :p maap bang kubuka rahasia sedikit). Mungkin pada dasarnya saya dan suami sudah terbiasa hidup mandiri dalam perantauan, jadi tidak ada tuntutan ini itu terhadap pasangan dan kami pun selalu berusaha untuk adaptif terhadap berbagai masalah yang mampir dalam hidup ini.

Memasuki dunia pernikahan dengan pasangan yang sudah saya kenal lama ini mengubah semua persepsi mitos tentang pernikahan. Dan dari sini saya mulai belajar untuk lebih percaya terhadap kemampuan diri dan pendapat orang terdekat (suami dan keluarga) daripada anggapan-anggapan masyarakat.

Tuntutan Sosial

Pernikahan bukan sekedar berkompromi menjalani hidup dengan pasangan, tapi juga tentang menghadapi tuntutan sosial bersama-sama, tentang kepoisme orang sekitar, sebuah basa-basi mengenai urusan rumah tangga orang.

Salah satu tema yang sering diangkat dalam kepoisme ini adalah perihal anak, masyarakat selalu menuntut pasangan yang menikah untuk segera berkembang biak. Sudah punya satu lalu ditanya kapan adiknya menyusul. Setelah dua anak tumbuh besar orang berkomentar kenapa kita ngga lanjut sekolah lagi atau kerja. Saya dan beberapa pasangan muda lain sering mengalami ini, dan kami sama-sama sadar bahwa masyarakat hanya membicarakan apa yang mereka tahu tanpa melihat lebih jauh kondisi/kepribadian pasangan muda yang di-kepo-in itu. Anggapan seperti ini kami jawab dengan senyuman saja, toh kami dan Allah SWT yang lebih tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang lebih baik bagi kami.

Tema lain yang sering diangkat dalam tuntutan sosial pasangan menikah adalah tugas suami dan tugas istri, terlebih lagi mengenai tugas istri. Dalam hal ini suami saya selalu menekankan bahwa tidak ada pembagian tugas yang kaku dalam keluarga, kita lakukan apa yang harus dilakukan, yang penting saling pengertian dan saling membantu saja.

Misalnya tentang makanan, kami hanya makan besar sekali sehari. Dengan pola makan seperti itu, memasak menjadi tidak efektif dan efisien (karena waktu untuk menyiapkan makanan dan mencuci tidak sebanding dengan produksi makanan untuk dua orang dalam satu waktu). Jadilah kami terbiasa  berpetualang naik motor ke sana-sini cari warung untuk mengisi perut sekali sehari. Uniknya, kebiasaan unik ini sangat didukung oleh suami karena ia tidak suka dapur kotor, menyimpan makanan terlalu lama/banyak di kulkas, dan terasa lebih awet muda.

Dan berbeda dengan cerita-cerita di masyarakat di mana istri menyambut suami dengan teh hangat atau istri membuatkan kopi untuk suami, dalam keseharian kami justru si suami lah yang menjadi barista rumah. Mau bagaimana lagi? Dia lebih tau rasio takaran kopi dan air panas, jenis biji kopi yang bagus, perbedaan cara membuat kopi (drip coffee, french press, tubruk), bahkan perbedaan rasa tiap kopi sachet yang ada di pasaran. “Terlalu dini bagi Anda untuk melampaui kemampuan saya, huahahaha”, begitu ucapnya kalau saya mau coba buat minuman, untungnya doi tak pernah komplain tentang minuman buatan istrinya.

Petualangan Bersama

Satu kesimpulan yang saya tarik dari pernikahan di usia muda ini adalah pentingnya kemauan untuk berpetualang bersama. Sejak lamaran diterima, saya sudah menerimanya sebagai partner menjalani rintangan hidup bersama. Dan sejak ijab qabul diucapkan, dia telah bersedia untuk memulai petualangan ini. Dia tidak membeli saya sebagai budak rumah tangga, dan saya pun tidak menuntut dia menjadi Superman yang bisa segalanya.

Semoga Allah SWT selalu membimbing petualangan kami di jalanNya yang benar. Amin ya Rabbal ‘alamin...

by: Seradona A. 

Thursday, April 21, 2016

Kyoto - My Dream Destination in Japan

Sulit dipungkiri bahwa hampir semua tentang Jepang saya ketahui dari menonton Anime. Anime berperan besar sebagai agen promosi budaya Jepang secara global, yaitu senjata ampuh Jepang sebagaimana Korea dengan K-Pop dan drama serinya. Sedari awal saya tertarik dengan Jepang, saya langsung tertarik untuk berkunjung ke Kyoto. Jadi, setelah 95 episode lamanya saya menonton anime SamuraiX dan tiga seri live-action movienya akibat terlalu kurang kerjaan (:p), Kyoto pun menjadi salah satu tujuan wisata di Jepang yang menarik bagi saya.

Foto diambil dari https://www.youtube.com/watch?v=ulVRwaxwqgo
Pada abad ke-8, Kyoto memang pernah menjadi ibukota negara Jepang, yaitu pusat pertumbuhan politik, ekonomi, budaya sekitar 1.100 tahun lamanya, hingga pada pertengahan abad ke-19 ibukota Jepang berpindah ke Tokyo. Di anime SamuraiX, Kyoto pada masa itu digambarkan sebagai sebuah kota yang penuh dengan gejolak politik negara Jepang, penuh dengan perang perebutan kekuasaan, pembantaian dan pembunuhan. Seakan-akan tidak ada yang tersisa. Namun ternyata, selama kurun waktu tersebut banyak peninggalan candi-candi dan kuil-kuil di sana. Nilai-nilai tradisi budaya pun masih dapat kita temui di Kyoto. Setelah mencari tahu apa saja yang bisa dinikmati saat jalan-jalan di Kyoto, saya jadi merasa bahwa Kyoto ini seperti DIY.Yogyakarta Indonesia di Jepang. So, ‘Kalau Indonesia punya DIY.Yogyakarta, Jepang punya Kyoto’, seperti itulah kira-kira.

Kyoto di Malam Hari Tampak Geisha Sedang Berjalan di Tengah Jalanan Kyoto
Foto diambil dari http://www.nytimes.com/2010/04/25/travel/25hours.html?_r=0
DIY. Yogyakarta meninggalkan banyak kenangan sejarah masa-masa kerajaan di Indonesia. Sebut saja, candi Borobudur yang sangat tersohor itu. Seperti di Kyoto, ada yang namanya Kiyomizu-dera Temple and Nijo Castle, keduanya dinominasikan sebagai World Cultural Heritage Sites. Selain itu masih banyak bangunan-bangunan berarsitektur tradisional yang bisa dinikmati di sana. Festival-festival yang digelar pun sangat beragam dan terkenal, tiga festival besar di antaranya the Aoi-matsuri Festival di awal musim panas, the Gion-matsuri Festival di pertengahan musim panas and the Jidai-matsuri Festival di musim semi, dan konon masih banyak lagi. Hal lain yang ingin saya rasakan di Kyoto adalah cultural experiences. Mengingat dulunya Kyoto juga merupakan pusat kebudayaan di Jepang, saya ingin sekali menyaksikan berbagai pertunjukan seni secara langsung, pertunjukan tari, teater, bela diri seperti pertunjukan samurai, dan lain-lain. Selanjutnya tentu berwisata kuliner di sana, tapi kalau tentang ini keinginan saya sederhana saja, saya cuma ingin makan makanan Jepang langsung dari Jepangnya. Kalau soal makanan saya orangnya super gampang, prinsipnya ‘apa saja boleh’ asalkan enak, halal, dan kenyang.   

Jadi, coba saja telusuri tentang Kyoto di internet, maka yang muncul gambar-gambar elok khas Jepang tradisional. Berbeda dengan Tokyo yang sudah sangat metropolitan, nuansa alam Jepang dengan taman-taman, pohon sakura mekar yang mengelilingi candi-candi, ada juga kuil-kuil peninggalan sejarah dengan jembatan kecil yang di bawahnya sungai mengalir, pepohonan hijau rimbun, semua membuat saya ingin melarikan diri kesana, atau hanya untuk sekedar menghirup udara segar sambil memegang samurai dan memakai kimono kemudian balik lagi ke rumah dengan pintu ajaib milik Doraemon, haha. 

by: Seradona A.

Wardah Conference "Co[l]ordination" (Indonesia Fashion Week 2016) dan Hari Kartini

Wardah menggandeng lima desainer ternama Indonesia Dian Pelangi, Zaskia Sungkar, Mel Ahyar, Barli Asmara, dan Ria Miranda berkolaborasi menampilkan karakter desain yang mengusung tema elemen-elemen bumi, seperti air (Ria Miranda-Seashore), cahaya matahari (Barli Asmara-Glow of Parai), batu (Zaskia Sungkar-Goa Gong), langit (Mel AhyarXAndien-Pohaci), dan api (Dian Pelangi-Lembayung Jiva). Konon katanya, tema-tema tersebut terinspirasi dari nama-nama tempat eksotis di Indonesia. Terus di acara ini juga, make up artis hits dari Wardah, Carolina Septerita, yang juga sosok wanita Indonesia berbakat, turut mengumumkan dan memberikan bocoran tentang warna-warna make up yang digunakan pada tiap rancangan desainer. I have no doubt! Pokoknya acara Wardah Conference ini menjawab rasa penasaranku terhadap iklan-iklan promosi yang beredar “seliweran” jauh-jauh hari sebelumnya di media sosial, haha. Sungguh indah kreasi para desainer Indonesia #bukanhiperbol. Ini ada video amatir yang sempat kurekam dan beberapa fotonya waktu acara ini berlangsung.


MC-Perwakilan Wardah-Carolina Septerita-PR Ria Miranda-PR Mel Ahyar-Zaskia Sungkar-Barli Asmara


Carolina Septerita-Professional Make Up Artist Wardah


Salah Satu Koleksi "Goa Gong" by Zaskia Sungkar

Mungkin teman-teman di sini bertanya-tanya lebih jauh, apa kaitannya acara di atas dengan peringatan Hari Kartini? Jadi begini, perkembangan fashion hijab bagiku mewakili semangat kewirausahaan yang luar biasa dari wanita-wanita Indonesia. Tren ini melahirkan banyak desainer lokal (dan kebanyakan dari mereka adalah wanita) yang membuat sendiri bajunya di dalam negeri, memunculkan banyak lapangan pekerjaan baru, bahkan kemandirian mereka ini tersohor hingga ke luar negeri. Ada rasa bangga dalam hati ketika kita tidak hanya menjadi konsumen pasif produk luar negeri, tapi  justru bisa menjadi pemain yang berpengaruh dalam pasar global. Menurutku mereka adalah pejuang-pejuang emansipasi wanita, Kartini masa kini. Salute! Semoga suatu saat kita bisa menciptakan kreasi berguna untuk bangsa sesuai dengan keahlian kita masing-masing. Karena kita juga bisa jadi Kartini. Kartini versi kita sendiri.

Selamat Hari Kartini!

by: Seradona A.

My Favorite Indonesian Culinary: Japanese Must Try It!

Indonesian Fruit Salad (Rujak Buah) Hampir di setiap negara mengenal salad sebagai sajian lezat dan segar. Salad bisa beragam ca...